‘Yesterday in Bandung’ from Jogja


image

Judul: Yesterday in Bandung
Penulis: Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Genre: Roman, Drama
Tanggal terbit: 04 Januari 2016
Harga: Rp 54.800

Ketika mendengar kata ‘Bandung’, yang terbayang pertama kali dalam benak saya adalah kota yang dingin dan indah. Bandung merupakan kota yang akan saya sebutkan pertama kali jika ada pertanyaan “Kota mana yang kamu rindukan untuk kamu kunjungi selain kota kelahiranmu sendiri?”.
Walaupun pengalaman saya ke Bandung hanyalah acara formal, yang pertama sekitar tahun 1999 untuk mengikuti acara study tour sekolah dan yang ke dua sekitar tahun 2005 untuk mengikuti acara study banding ke UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Namun demikian, Bandung akan menjadi kota yang selalu saya rindukan untuk saya kunjungi lagi.

Nah, begitu tahu ada novel baru yang mengangkat latar kota dengan sebutan ‘Paris van Java’ itu, saya langsung tertarik untuk meminang novel cantik tersebut. Apalagi salah satu penulis novel itu adalah si teteh geulis yang selalu saya kagumi karya fiksinya yang sering beliau posting di blognya. Siapa lagi kalau bukan teh Rinrin Indrianie *peluk cium teteh*

Novel ini merupakan ‘novel keroyokan’ yang kali pertama saya baca. Oleh karena itu, awalnya agak sulit menyesuaikan diri dengan 5 gaya bahasa yang berbeda dari 5 penulis sekaligus dalam satu novel. Tapi begitu sampai di Bab 6, saya baru mulai bisa menikmati perbedaan itu. Di bab ini juga saya mulai mengenal masing-masing karakter utama dalam novel tersebut. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya ketika membaca sebuah novel, secara sengaja ataupun tidak sengaja, saya akan menciptakan tokoh imajiner dari tokoh-tokoh yang sedang saya baca. Tokoh-tokoh imajiner itu akan muncul dengan sendirinya dalam benak saya. Biasanya karena pengaruh film terakhir yang saya tonton atau karena pemeran FTV yang paling sering muncul di layar kaca. Berikut sedikit saya deskripkan tentang tokoh-tokoh utama dalam novel ini berikut dengan tokoh imajiner yang muncul dalam imajinasi saya.

1. Shaki (Revalina S.Temat)
Gadis ramah dan lembut yang berasal dari Palembang, yang selalu ‘pura-pura bahagia’ untuk menutupi masalah berat yang sedang dihadapinya. Ia paling suka ‘melarikan diri’ dari masalah dengan menyibukkan diri di dapur. Belum cukup masalah keluarga dan masalah kejiwaan yang membebaninya, kini ia dihadapkan dengan masalah yang sangat sensitif, yaitu urusan hati. Malaikat juga tahu, manusia akan menemui titik terlemahnya ketika sudah mulai berurusan dengan perasaan. Akankah Shaki mampu menghadapi semua itu? Akankah ia bisa ‘menyapih’ perasaannya sendiri?

2. Zain (Vino G. Bastian)
Pemuda dari desa dengan modal nekat dan ‘modal tampang’ ingin mengejar impiannya untuk mengangkat derajat keluarganya, namun malah tersandung masalah yang berurusan dengan hidup dan mati. Dia terlalu berharap pada cinta yang sulit diraihnya, padahal di dekatnya ada cinta yang selalu menunggunya dengan setia dan, merana lebih tepatnya. Apakah mungkin impian Zain akhirnya bisa tercapai hanya dengan ‘modal tampang’?

3. Tania (Acha Septriasa)
Gadis riang, lincah, dan selalu bicara dengan gaya bicara ‘nyablak’ ini tokoh yang paling saya suka karena kepribadiannya yang kuat dan percaya diri. Tak ada yang menyangka bahwa ia punya masa lalu yang sangat menyakitkan. Di sini saya tekankan, hanya ‘gadis baik-baik’ yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh Tania. Di salah satu scene, saya ikut terbawa dalam percakapan Tania dengan orang yang dicintainya tapi sangat tidak diinginkannya. Bagaimana Tania melepas orang itu, sungguh bisa membuat saya meluluhkan air mata.

4. Dandi (Ibnu Jamil)
Pria pendiam dengan luka hati dari masa lalunya. Ia berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, berusaha menjadi dewasa, kemudian berusaha mendapatkan hati gadis yang diam-diam ia kagumi. Sikapnya yang kaku selalu menjadi hambatan baginya. Namun cinta, sekali lagi cinta, selalu punya cara untuk memenangkan hati yang ia jatuhi. Dan cinta tak pernah salah memilih.

5. Aline (Marsha Timothy)
Wanita cantik, mandiri, dan dewasa yang menyimpan segudang rahasia tentang hidupnya. Ia tak begitu peduli dengan alur hidupnya sendiri, hingga ia divonis mengidap suatu penyakit mematikan. Akankah ia mampu melawan penyakitnya sendirian saja? Apakah ia bisa mewujudkan impian terakhirnya?

Semua jawaban dari pertanyaan itu akan terjawab bila kita sudah membaca novel Yesterday in Bandung ini πŸ˜‰

Kelima tokoh dalam novel tersebut tinggal di satu atap dan mereka dengan latar belakang masing-masing, berinteraksi untuk saling melengkapi dan saling menghargai. Intrik dan konflik selalu menjadi ‘menu’ yang selalu ditunggu oleh para pembaca. Klimaks dari novel ini, yang bisa kita temui di bab-bab akhir, membuat kita semakin ingin ‘melahap’ isi novel dengan ‘sekali suap’ saja πŸ˜€

Yang membuat novel ini beda adalah adanya backsound di setiap babnya dan lagu yang paling sering muncul adalah lirik lagunya The Beatles. Senada dengan judul novel ini, kutipan utama yang diangkat oleh novel ini juga penggalan lirik lagu The Beatles yang berjudul Yesterday.
Idealnya, saat kita membaca suatu bab, kita juga mendengarkan lagu sesuai bab tersebut. Misalnya saat kita membaca BAB 7, babnya Zain: Stole My heart (I’ve been waiting for a girl like you, to come around –One Direction) akan lebih ‘dapet feelnya’ kalau kita juga mendengarkan lagu itu.

Selain itu, novel ini juga mengangkat nama-nama tempat ternama di Bandung, misalnya: BIP, Dago, RS Hasan Sadikin, Taman Ganesha, seputaran kampus ITB, dan tempat-tempat lainnya. Kuliner yang disebutkan juga ‘Bandung banget’ seperti Pisang Bolen, Ayam Cola, atau Es Cendol Elizabeth.
Saya sebagai pembaca yang belum mengenal Bandung secara detail tentu saja belum mengenal tempat-tempat tersebut. Untuk Taman Ganesha dan Ayam Cola, saya sempat browsing gambarnya karena penasaran πŸ˜€

Jika saya yang orang Jogja dan belum begitu mengenal Bandung saja sangat tertarik dengan novel ini, apalagi orang Bandung, seharusnya lebih tertarik. Terutama untuk yang pernah tinggal di Bandung, alumni ITB misalnya, saya yakin akan lebih bisa terbawa suasana dan alur cerita di novel ini. Jadi tunggu apa lagi?! Buruan ke toko buku terdekat dan miliki novel cinta ini.
Selamat membaca!! πŸ™‚

Iklan

27 thoughts on “‘Yesterday in Bandung’ from Jogja

    1. Iyaaa.. Akupun selalu suka dg kuliner Bandung, cireng cilok dan teman-temannya :p
      Pertama ke Bandung, ke Tangkuban Perahu yg dingin bgt itu, beli syal trs makan baso cuankie.. huhuhu aku rindu Bandung, Win 😦

  1. Naaaaa, tengkyu yah reviewnyah *terharu*.

    Btw, kami berlima memang meminjam appearance artis untuk penokohan, meskipun prediksi Na di atas ga ada satu pun yg sama hihihihihi. Sekali lagi, terima kasih ya Naaaa *ketjup*

    1. Wah, gak ada yg sama yaa πŸ˜€
      Aku jg gak nyadar teh, tiba-tiba yg muncul di benakku artis-artis ituuuu πŸ˜€

      With my pleasure teteh!! Seneng bisa bikin review utk tulisan tmn sendiri *ketjup balik*

      Doakan aku teh, bs segera menuai rinduku utk menginjakkan kaki lg di Bandung

    1. hahaha.. Salahkan imajinasiku Fer!! Ini yg muncul Ibnu Jamil dan Revalina mungkin krn film yg aku tonton terakhir itu Assalamu’alaikum Beijing πŸ˜€
      Yg penting Dandi dan Ibnu Jamil sama-sama punya lesung pipi 😚😚

      Ah yg bnr Fer?! Berarti klo reuni SMP bakalan ketemu dong yaa πŸ˜€

  2. dalam benak saya kalok bicara Bandung ya kota banyak meninggalkan sejarah. Pusatnya kuliner dan wisata. ntar deh mbak kalok ke gramedia sya coba liat novelnya. soalnya gramedia cukup jauh dari rumah.

  3. dalam benak saya kalok bicara Bandung ya kota banyak meninggalkan sejarah. Pusatnya kuliner dan wisata. ntar deh mbak kalok ke gramedia sya coba liat novelnya. soalnya gramedia cukup jauh dari rumah.
    berkahkhair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s