Apel Busuk untuk Emak


(pura-puranya) Prolog: Pas baru pindahan rumah sekitar setahun yang lalu, gak sengaja nemuin semacam buku diary gitu. Pas dibuka-buka ternyata ada beberapa cerpen jadul karya saya yang masih ditulis tangan. Langsung deh diketik trus disave, rencana mau dipublish juga di blog, tapi kok gak pede. Nah, berhubung hari ini mood saya lagi oke, mau posting deh salah satu cerita pendek yang agak panjang dan mungkin geje, soalnya dulu pas nulis cerpen ini, referensi bacaan saya masih minimalis banget. Untuk yang punya waktu banyak, boleh deh dibaca. Tapi untuk yang sibuk, skip aja deh 😀 Jangan lupa kritik dan sarannya yaa.. terutama untuk para pendekar fiksi kayak teh Orin, Masya, and pak Lambang *siap-siap dihujat* 😀

Selamat membaca!

Selama hidupnya, emak hampir tidak pernah punya keinginan macam-macam. Dia tidak pernah membebani pikiran suami dan anak-anaknya. Maka dari itu, saat beberapa hari terakhir ini emak berulang kali menyebut-nyebut kata ‘apel’ ketika berbicara denganku, aku jadi berfikir mungkinkah emak sedang ingin makan apel. Sepekan yang lalu kalau tidak salah, ketika emak bercerita tentang mendiang abah, emak bilang, “Dulu ketika abahmu masih hidup, dia sering membawakan apel untuk emak sepulangnya dari kebun teh milik juragan Jarot”. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman seraya berkata, “Abah memang abah paling baik sedunia ya Mak”. Kemudian, tadi pagi emak bercerita lagi, “Buyung, tadi di pasar emak melihat apel yang sudah ranum, merah-merah semburat kuning, nampak empuk dan segar sekali. Namun sayangnya emak hanya membawa uang pas untuk membeli beras, uangnya tidak cukup untuk membeli apel”. Batinku tersayat mendengar cerita emak. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kami makan buah yang langka di daerah kami itu. Buah yang dulu pernah aku lihat pohonnya tumbuh liar di hutan dekat perkebunan teh di kampung kami, tempat aku dulu sering menghabiskan waktu bersama teman-teman sepermainanku sepulang sekolah. Belum lekang dari ingatanku kalau aku dan teman-temanku akan menjadi sangat tidak sabar kalau melihat pohon itu berbuah. Meski apelnya masih mentah-mentah, kami akan dengan cekatan memanjat kemudian memetiknya. Anehnya, meski masih terasa asam, apel-apel mentah itu pasti habis kami lahap sambil berlarian berkejaran berpetualang di hutan.

Hari ini, setelah aku menyelesaikan tugasku memberi makan kambing-kambing peninggalan abah dan membersihhkan kandangnya, aku berniat hendak ke hutan untuk mencari pohon apel yang dulu pernah aku lihat itu. Siapa tahu pohon itu masih ada dan masih berbuah. Aku raih sepedaku dan bergegas berangkat sebelum hujan turun karena aku lihat langit di sebelah barat sudah tampak mendung, sedangkan hutan di dekat kebun teh itu ada di sebelah barat kampung kami. Aku hanya bilang pada emak kalau aku hendak bersepedaan di sekitar kebun teh. Setelah menelusuri separuh lebih jalan kampung yang terjal, tiba-tiba sepedaku oleng. Benar saja, ban belakang sepedaku kempes. Sempat terpikir olehku untuk kembali saja dan mengurungkan niatku mencari pohon apel itu, tapi aku terbayang wajah emak. Wajah yang dengan bahagia melihat aku pulang membawa sebuah apel yang diinginkannya. Semangatku kembali terbakar, merah membara. Ku tinggalkan saja sepedaku di semak-semak pohon teh untuk aku ambil lagi nanti sepulang dari hutan.

Aku mulai berjalan agak cepat dengan harapan aku sudah sampai di hutan sebelum hujan mulai turun. Tidak cukup puas dengan berjalan cepat akupun berlari, menyusuri sela-sela rimbunnya pohon-pohon teh. Ternyata jalan pintas menuju hutan itu masih sama seperti saat aku melewatinya 15 tahun yang lalu. Aku berlari dan terus berlari, serasa hujan deras mengintaiku dari jauh dan hendak menangkapku. Sesampainya di hutan, aku menyusuri jalan setapak yang biasa dilewati warga kampung sekitar hutan untuk mencari ranting-ranting kering ataupun kayu bakar. Sampai di persimpangan jalan, aku mengingat-ingat jalan itu, sepertinya dulu tidak ada persimpangan. Dalam kebingungan memilih jalan mana yang harus aku tempuh, aku mengambil ranting yang agak lurus yang aku ambil dari tempat tidak jauh dari posisiku berdiri. Ku ratakan tanah dengan mencabuti rerumputan dan aku buat sebuah gundukan padat di situ. Ku letakkan ranting itu di atasnya dengan memutuskan bahwa salah satu ujung ranting yang bercabang sebagai penunjuk arah. Aku putar ranting itu di atas gundukan yang padat kemudian aku tunggu sampai salah satu ujung ranting menghadap ke arah yang sebaiknya aku tempuh.

Ternyata ranting itu menunjuk arah kanan, maka aku ikuti saja petunjuk itu daripada aku kebingungan. Banyak semak belukar di jalan setapak itu, sepertinya jalan itu jarang dilewati oleh penduduk sekitar. Dugaanku salah, belum lama aku menyusuri jalan setapak itu, aku melihat ada dua anak laki-laki sedang berburu burung dengan ketapel kecil yang sepertinya buatan mereka sendiri. Ku perhatikan wajah kedua anak itu, aku tidak mengenalinya, mungkin anak dari kampung sebelah. Mereka tampak terkejut melihat kedatanganku. “Nuju naraon anjeun didieu?! ieu tos bade sonten” tanyaku menyapa mereka. “Sakeudap deui akang” jawab salah satu anak itu singkat. Sesaat sebelum mereka beranjak pergi, aku tanyakan apakah mereka pernah melihat pohon apel di sekitar sini. Mereka mengingat-ingat dengan serius kemudian salah satu dari mereka menjawab, “ada kang, tapi berbalik arah kalau dari sini”. “Jauh tidak?” tanyaku dengan penuh harap. “Persimpangan jalan di depan itu belok kiri, lurus terus saja lewat jalan itu, sampai ada beberapa pohon pinus berjajar, akang lihat di sebelah kanannya. Ada sebatang pohon apel besar yang sudah tua di situ. Tapi sepertinya sudah jarang berbuah” jelasnya panjang lebar. “Hatur nuhun ya nang, aku akan coba lihat ke sana” ucapku. Dua anak itu berlalu medahuluiku sambil sebentar-sebentar melihat ke atas, menelisik setiap ranting dan dahan yang sering digunakan oleh burung-burung kecil bertengger.

Sesampainya di jajaran pohon pinus, aku melihat ke arah kanan, sesuai petunjuk anak tadi. Betapa girangnya aku menemukan pohon apel itu, seperti seorang pencari harta karun yang berhasil menemukan satu peti penuh emas dan berlian. Pohon itu dikelilingi semak belukar yang tinggi, hingga untuk mencapainya harus sedikit berjuang. Tak ku hiraukan duri-duri belukar yang menyobek kulit betis dan telapak kakiku. Tak terlalu ku rasakan gatalnya daun-daun beracun yang menempel di tanganku. Aku hanya ingin segera mencapai pohon apel tua itu. Memang sepertinya pohon itu sudah jarang berbuah. Aku perhatikan dengan seksama setiap dahan dan ranting pohon itu. Bahagia tak terkira begitu aku melihat ada dua buah apel yang tersisa di ujung dahan pohon itu. Karena letaknya yang berada di pucuk, maka mau tak mau aku harus memanjat. Pijakan demi pijakan ku tapakkan kakiku di pohon apel tua itu. Ah ternyata aku sudah tak selihai dulu, aku kesulitan untuk menyelaraskan kaki dan tubuhku. Bruuuuuukkkkk….. tubuhku terpental ke tanah. Mungkin juga karena tadi aku kelelahan berlari. Aku coba lagi dan lebih berhati-hati. Ku perhatikan setiap lekuk batang pohon itu untuk ku siasati agar aku tak terpeleset lagi. Sesampainya di atas pohon, ku raih ranting untuk menggapai apel yang ada di ujung dahan. Sengaja ku pilih apel yang lebih ranum karena pasti sudah empuk dan emak yang sudah paruh baya tidak akan kesulitan untuk mengunyahnya. Aku berusaha agar apel itu tidak terjatuh ke tanah. Namun usahaku ternyata sia-sia, apel itu jatuh. Dengan perasaan kecewa aku turun dari pohon itu. Ku ambil apel yang jatuh tadi, ku amati di semua sisinya, untunglah hanya sedikit bagian yang cacat terbentur tanah. Mungkin karena saking masaknya, aroma apel itu harum sekali, sudah terbayang kelezatan daging buahnya. Ku  genggam apel itu erat-erat kemudian aku bergegas pulang. Sesampainya di perkebunan teh, hujan turun dengan lebatnya. Tak ada pilihan lain bagiku selain melanjutkan perjalanan karena memang tidak ada tempat untuk berteduh. Entah kenapa ada perasaan senang saat tubuhku terguyur hujan. Aku seperti kembali ke masa kecilku yang bahagia bersama abah dan emak.

Begitu sampai di tempat aku meninggalkan sepeda tadi, ku gotong sepedaku dengan sisa-sisa tenagaku, sementara hujan sudah hampir reda. Sesampainya di pekarangan rumah, langkahku terhenti ketika ku lihat sebuah mobil sedan putih yang sudah tidak asing lagi bagiku. Itu mobil abangku dari Jakarta, abang angkat lebih tepatnya. Dulu waktu abah pernah merantau ke Jakarta, abah membawa pulang bang Rokhim, nama pemberian abah juga. Waktu itu aku hampir bersekolah SD dan bang Rokhim kira-kira enam tahun lebih tua dariku. Abah mengangkatnya menjadi anak karena abah berhutang budi padanya. Waktu di Jakarta abah pernah terancam oleh kawanan perampok yang memalaknya di dekat stasiun Gambir. Entah bagaimana ceritanya, abah bilang, bang Rokhim lah yang telah menyelamatkan nyawanya. Abah berulang kali bilang kalau bang Rokhim itu anak yang cerdas dan dia punya potensi, hal itulah yang membuatku sering cemburu. Abah tak pernah memujiku seperti itu. Abah juga yang menyekolahkan bang Rokhim sampai ia tamat SLTA. Setelah itu, bang Rokhim kembali ke ibu kota untuk mengadu nasib dan nasibnya memang baik. Sekitar lima tahun setelah kepergiannya, bang Rokhim menjenguk kami. Dia sudah menjelma menjadi seorang wirausahawan sukses. Tidak hanya kami sekeluarga yang selalu dibantu secara ekonomi, warga sekitar di kampungku pun tidak luput dari sifat murah hatinya itu. Terakhir sekitar satu tahun yang lalu, bang Rokhim membantu perbaikan jalan di kampung kami. Walaupun dia selalu bilang kalau bukan dia yang mengeluarkan uang untuk memperbaiki jalan itu, dia itu hanya sebagai penyambung lidah warga saja, tapi tetap saja warga sangat berterima kasih dengan pertolongan abang. Setahun sebelumnya, bang Rokhim pula yang mendirikan sebuah perpustakaan kecil di kampung kami. Dengan uangnya sendiri dia membangun perpustakaan itu dan mengisinya dengan ribuan buku. Warga merasa banyak berhutang budi pada abang. Mereka pasti akan datang ke rumah dengan membawa hasil kebun mereka begitu tahu kalau bang Rokhim pulang. Walaupun aku sering merasa cemburu karena emak dan warga sering sekali memujinya, tapi aku diam-diam sangat mengaguminya. Aku kagum dengan kemurahan hatinya, aku kagum dengan keshalehannya, aku kagum dengan semua kebaikan yang ada pada dirinya.

***

Aku perhatikan rumah masih sepi, mungkin warga belum tahu kalau bang Rokhim pulang. Karena bajuku yang basah kuyub dan kotor sekali, aku sengaja tidak langsung menghambur ke ruang depan untuk menyalami abang angkatku itu. Setelah ku letakkan sepeda di samping rumah, aku ambil handuk kering di tali jemuran yang tergantung di teritis atap belakang rumah. Begitu aku hendak masuk mengambil kaos untuk ganti, serasa hatiku dipukul palu godam ketika tanpa sengaja aku dengar abang dan emak bercakap-cakap. “Dari mana kamu tahu kalau emak sedang ingin makan buah apel?” tanya emak. “Kebetulan saja mak, aku tadi bingung mau beli buah apa untuk emak dan Buyung. Setelah aku mengingat-ingat, di kampung kita ini kan langka pohon apel, makanya tadi aku mampir toko buah untuk membeli apel-apel ini. Sengaja ku pilihkan yang sudah sangat masak, ayo mak dicicipi” seloroh abang. Dia memang selalu ada ketika dibutuhkan. Abang memang selalu menjadi kebanggaan abah dan emak. Pelupuk mataku tiba-tiba terasa panas dan air mata pun turun tak tertahankan. Aku selalu ingat kalau dulu abah pernah bilang waktu aku terjatuh dari sepeda dan lututku memar, sakit sekali rasanya, “Kalau memang sakit kau boleh menangis, Nak. Siapa bilang anak laki-laki tak boleh menangis? Menangislah!”. Kali ini sakit yang aku rasakan jauh lebih sakit dari lututku yang memar waktu itu. Seratus kali lebih sakit rasanya. Aku pun mundur teratur. Aku letakkan apel yang aku petik tadi di dekat tumpukkan kayu bakar di samping rumah. Ku biarkan nanti emak yang akan menemukannya sendiri. Emak tidak setiap hari mengambil kayu bakar dari tempat itu. Satu ikat kayu cukup untuk memasak selama dua atau tiga hari. Saat menemukan apel itu mungkin emak akan membuangnya.

***

Setelah ku ganti bajuku, segera ku temui bang Rokhim. Nampak berbinar sekali wajahnya melihat kedatanganku. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambutku. “Buyung! Dari mana saja kau ini? Abang dari tadi menunggumu” tanyanya sambil memelukku. “Jalan-jalan ke kebun teh, bang” jawabku singkat. “Abang bawa banyak oleh-oleh untukmu, lihatlah!” bujuknya sambil mengambilkanku sebuah tas kertas besar warna coklat. Ku lihat sekilas isi tas itu sambil berucap terima kasih. “Buyung lihatlah, abangmu membelikan kita apel yang masih segar. Coba kau cicipi, kau pasti suka” sela emak kemudian. Aku ambil satu apel itu. “Punten bang, aku harus membawa sepedaku ke bengkel mang Usman, tadi ban belakangnya bocor ketika aku pakai untuk berkeliling kebun” tanpa menunggu jawaban dari emak ataupun abang, ku tinggalkan mereka seraya menggenggam apel pemberian abang. Ku letakkan apel itu bersebelahan dengan apel yang aku petik tadi siang. Sungguh nampak berlawanan, seperti diriku dan bang Rokhim. Ku tuntun sepedaku dan ku tinggalkan apel itu. Saat ini aku hanya ingin segera menceburkan tubuhku di sungai. Sungai yang biasa dipakai oleh warga untuk mandi dan mencuci. Aku berenang dan terus berenang. Ingin ku tumpahkan semua kekalutanku di air sungai yang mengalir itu. Biarkan air yang akan membawa semua perasaan sedih dan kecewaku hari ini, sampai ke laut yang tak bertepi. Biarkan perasaan sedih dan kalut itu hilang dan tak kembali.

Iklan

10 thoughts on “Apel Busuk untuk Emak

    1. ah mbak Nella…
      Dirimu selalu hadir pertama di setiap postinganku.. bolehkah aku merasa terharu? sedikit lebay sih, tp kali ini saja..
      *nangis di pelukkan mbak Nella*

    1. semoga saja si Emak bisa seperti itu yaa mbak..
      Buyung itu yg tiap hari merawat emaknya, klo bang Rokhim kan cuman sesekali nengokin emaknya.. iya sih, tiap kali nengokin dia pasti bawa ‘kasih sayang’ melebihi yg tiap hari ada di samping emak 😦
      *eh kok gue tau bgt yaa tentang si Buyung* hahaha 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s