Mendekap Rindu dalam Bungkam


Ping. Pemberitahuan email masuk di handphone Nara. Reflect saja dia menoleh ke arah benda pintar itu, yang ia letakkan di samping tumpukan folder di meja kerjanya. Rasanya memang Nara sudah tau siapa yang mengirim email di jam-jam seperti ini. Sepuluh jari-jari lentiknya tetap sibuk melompat-lompat dengan gesitnya dari beberapa huruf ke huruf-huruf lain di keyboard netbooknya. Email masuk itu ternyata tak cukup menggoda Nara. Email dari Arga tentunya, yang selalu datang sekitar satu jam sebelum jam makan siang. Entah ini email yang ke berapa selama hampir tiga bulan ini, karena memang hampir setiap hari Arga mengirimkan email untuk Nara, semenjak Nara memutuskan untuk tidak menemui Arga lagi. Masih belum lekang dari ingatan Nara akan email terakhir yang dikirim Arga dua hari yang lalu. 

Dear Nara, 

Sudah hampir tiga bulan semua berlalu. Pikirku aku tak akan butuh waktu lama untuk  melupakanmu. Seperti halnya saat aku mengenalmu dan kebersamaan kita yang singkat itu menurutku akan membuatku dengan sangat mudah menyingkirkanmu dari pikiranku. Aku kira, tak akan sampai sebulan aku pasti berhenti menangisimu. Tapi semua terlalu berat bagiku. Sebegitu bencinyakah Nara padaku? Sampai untuk membalas emailku saja Nara tak sudi? Setelah semua akses komunikasi Nara blokir, tinggal email ini satu-satunya jalan untukku bisa menghubungimu. Berlebihankah permintaanku jika aku hanya ingin berbicara lagi denganmu seperti dulu? Saat Nara bilang nggak mau ketemu aku lagi, aku sudah coba mengiyakan, tapi aku mohon.. tetap bicaralah denganku.. paling tidak balas emailku ini.

Aku menunggu dan akan terus menunggu…

Aku merindukanmu…

Sekitar tiga bulan yang lalu Nara memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arga.

“Terima kasih untuk semua kenangan indah yang pernah Nara berikan. Maafkan aku jika aku hanya bisa menyakiti Nara selama ini” jawab Arga dengan terbata-bata dan tanpa menatap wajah Nara, hingga gadis manis itu berlalu dari bangku taman tempat terakhir mereka bertemu.

Ingin sekali Arga menahan Nara waktu itu, namun ia sungguh tak mampu. Hatinya serasa disayat sembilu. Perasaan sedih, marah, kalut, berkecamuk dalam hati laki-laki itu. Begitu juga Nara, penuh air mata ia meninggalkan Arga, ia seperti berlalu sambil memunguti serpihan hatinya yang berceceran.

Nara hanya ingin Arga kembali ke kehidupannya yang dulu, seperti sebelum mereka bertemu. Kehidupan Arga dengan tunangannya, Elfira. Kalau tidak karena mereka sudah lama berpacaran kemudian tunangan dan keluarga besar mereka berdua sudah sangat dekat, terutama mamanya Arga dengan Elfira, mungkin akan lebih mudah bagi Arga untuk meninggalkan tunangannya itu dan lebih memilih Nara. Tapi sungguh bukan seperti itu yang Nara inginkan.

Bagi Nara, adalah suatu kesalahan saat ia mengenal dan mulai dekat dengan Arga. Bukan Nara tak bahagia, bukan Nara tak mencintai Arga, tapi justru karena perasaan Nara yang terlalu dalam, justru karena Nara merasa sangat bahagia saat berada di dekat Arga. Nara hanya ingin dia tak terlalu sakit jika nanti ia tahu bahwa Arga dan Elfira akhirnya menikah. Terdengar egois memang, tapi memang hal itu yang selalu Nara takutkan.

“Ra! gue mau keluar beli maksi, lu mau nitip atau cabut bareng gue ama Dika?” suara cempreng si Ega membuyarkan lamunan Nara.

“Eh nggak, gue dapet mandat dari big boss suruh ngirim paketan ini buat anaknya di Bandung” jawab Nara kemudian.

Sampai di depan kantor jasa pengiriman barang, Nara memarkir motor matic kesayangannya. Belum sempat ia melepas helmnya, Nara sangat terkejut ketika melihat motor Ninja merah yang diparkir dengan radius sekitar lima meter dari tempatnya berhenti. Nara perhatikan dengan seksama nomer plat motor itu. Ada perasaan terluka membuncah dalam hatinya.

“Itu beneran motornya Arga, aku harus segera pergi dari sini” gumam Nara dalam hati.

Seperti yang selalu Nara lakukan selama tiga bulan terakhir ini. Dia selalu berusaha menghindar begitu melihat Arga.

Baru saja Nara memutar kunci kontak motornya, “Ra! Nara! Nara!” suara teriakan melengking Arga.

Ternyata Arga melihat Nara. Dengan kekalutan perasaan yang luar biasa, Nara segera menyalakan mesin motornya dan memacu kecepatan tinggi untuk bisa segera menjauh dari tempat itu. Namun usahanya sia-sia, Arga dengan motornya dan kelihaiannya mengendalikan kemudi tentu saja dia bisa menyusul Nara dengan mudah.

“Ra, berhenti dulu! Aku hanya ingin bicara, kita bisa perbaiki semuanya” seloroh Arga dengan posisi motornya hampir menyanding motor Nara.

Namun Nara justru semakin menambah kecepatannya demi untuk tak melihat wajah Arga. Dia takut hatinya tersentuh. Mereka berdua tampak seperti dua pembalap amatir di tengah jalan raya yang cukup padat itu. Suara klakson dari arah berlawanan pun saling bersahutan karena ulah Arga yang tak terkendali. Dan benar saja, praaaaaaakkkkk!!! Sreeeeetttt!!! Suara motor Arga yang beradu dengan badan truk kemudian terseret dengan ganasnya di badan jalan beraspal. Beberapa pengguna jalan menepi dan berhenti, termasuk Nara.

“Ya Tuhan. Arga!!” teriak Nara histeris berlari menghampiri Arga yang sudah digotong oleh sejumlah orang dan di bawa ke tepian jalan. Nara menghampiri tubuh tak berdaya itu, dengan penuh darah di keningnya.

“Arga…..” isak Nara. Dia tak mampu berkata-kata lagi selain menyebut nama itu.

“Akhirnya aku bisa menatap wajahmu lagi. Ternyata harus seperti ini caranya” ucap Arga lirih.

“Bukan.. bukan maksudku seperti itu”  Sangkal Nara dengan masih terisak.

“Sebut namaku dalam setiap doamu, sayang. Aku tunggu kau di kehidupan yang abadi nanti” ucap Arga dengan menatap tajam mata Nara.

Sedangkan Nara hanya mampu mengangguk dengan tangisnya yang semakin menjadi. Arga seperti berucap sesuatu, seperti membisikkan nama Tuhan. Sangat pelan kemudian senyap. Hingga yang tertinggal hanya wajah Arga yang tenang dengan seulas senyum penuh kedamaian dan Nara dengan hatinya yang porak poranda.

 

Catatan Tangan: Hanya sedang mencoba merambah ranah fiksi, setelah bertahun-tahun tak menjamahnya. Mohon apresiasi dari teman-teman semua, baik berupa kritik ataupun saran yang ‘menghidupkan’. Mohon usulan judul untuk cerpen ini, itu masih judul sementara. Big thanks to Rara and Masya yang sudah membangkitkan gairah menulisku *peluk satu-satu 😀

Iklan

53 thoughts on “Mendekap Rindu dalam Bungkam

  1. Kalau saran dan kritikan aku belum mampu bund, nulisku aku aja msh abal abalan, jadi penikmat saja ya buat fiksinya 😛

  2. Senyum terakhir – itu usul judul dariku bunda…

    saya suka sekali. detail bunda menuliskannya. 🙂

    dan komen terakhir…
    Pasti Ra seneng banget nih. karena namanya disebut terus. hehehe

    1. klo ‘Senyum Terakhir’ jd kayak judul yg sering dipake Ra.. hihi

      mksh bgt yaaa Ryan… semoga beneran bagus yaa 🙂

      iya nih, Ra ama Masya knp blm nongol.. musti pake jelangkung kaleee yaaa.. haha

    1. maksud Layla dibikin lbh panjang lg ceritanya? itu dah mentok idenya cuman segitu… hahahaha
      klo utk dipublish di blog segitu kayaknya dah lumayan panjang, klo kepanjangen malah tar pd males bacanya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s