Jangan Jadi Guru ‘Ngaji’


Sebagian umat muslim (Jawa) pasti tahu persis dengan istilah ini. Ngaji dalam arti sebenarnya adalah bahasa Jawa dari tadarus atau membaca Al Qur’an. Menjadi seorang guru ngaji pastilah sangat mulia, baik di hadapan Allah SWT, maupun di mata sesama manusia. Akan tetapi ‘ngaji’ yang saya maksud kali ini merupan salah satu tindakan yang menurut saya tidak terpuji dan lebih baik jangan dibudidayakan, apapun alasannya. Berikut ulasan singkat tentang ‘ngaji’ yang saya maksud:

‘nga’ kependekan dari ‘ngarang’ yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘mengarang’ atau ‘merekayasa

‘ji’ kependekan dari ‘biji’ yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘nilai’

Sebagai seorang junior teacher, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri tentang fenomena ini. Dimana seorang guru, dengan dalih sudah sangat hafal dengan kemampuan murid-muridnya, hanya menggunakan ‘asas kira-kira’ saat memberikan nilai pada mereka. Bisa nilai ulangan, bisa nilai praktek, dan yang paling parah yaitu nilai raport! 😦

Alhamdulillah, selama sekitar 5 tahun saya mengajar, insyaAlloh saya belum pernah menjadi guru ‘ngaji’. Bahkan di tahun ajaran baru terakhir ini saya diamanahi sebagai guru kelas 2 sekaligus sebagai guru muatan lokal Bahas Inggris (yang rencana ke depannya hanya akan menjadi extra kurikuler di tingkat pendidikan SD).

Sebagai guru kelas, saya mengampu 9 mata pelajaran, termasuk muatan lokal bahasa Inggris. Sedangkan untuk muatan lokal bahasa Inggris sendiri, saya menghandle 7 kelas. Semuanya berjalan lancar-lancar saja dalam proses belajar mengajar. Akan menjadi sangat menguras tenaga dan pikiran saat melalui proses pembuatan administrasi dan proses evaluasi (koreksi hasil pekerjaan siswa dan pengolahan nilai). Benar yang orang bilang bahwa ‘mendua’ itu sungguh sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran! hahaha 😀

Lembar Kerja Siswa dari Dikdas Kabupaten Bantul yaitu Pkn, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, IPS, IPA, dan Matematika
Lembar Kerja Siswa dari Dikdas Kabupaten Bantul yaitu Pkn, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, IPS, IPA, dan Matematika
Lembar kerja siswa 7 kelas Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Lembar kerja siswa 7 kelas Mata Pelajaran Bahasa Inggris
2 sample hasil karya siswa kelas 2 untuk UAS Membatik
2 sample hasil karya siswa kelas 2 untuk UAS Membatik
Sebanyak 28 bendel hasil pekerjaan para siswa kelas 2 yg sudah dikoreksi, diberi nilai, dan siap utk dibagikan. Setiap bendel berisi 9 Mapel yaitu: Pend. Agama, Pkn, Bhs Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bhs Jawa, Pend. Membatik, dan Bhs Inggris.
Sebanyak 28 bendel hasil pekerjaan para siswa kelas 2 yg sudah dikoreksi, diberi nilai, dan siap utk dibagikan. Setiap bendel berisi 9 Mapel yaitu: Pend. Agama, Pkn, Bhs Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bhs Jawa, Pend. Membatik, dan Bhs Inggris.

Berikut saya berikan beberapa tips untuk mencegah agar kita para pendidik tidak tergiur untuk melakukan mal praktek terhadap para calon penerus bangsa kita yang tercinta ini:

  1. Time Management

Ya, pengaturan waktu. Dalam hal apapun kita tidak bisa lepas dari yang namanya WAKTU. Seperti saat para pendidik hanya diberi waktu sekitar 2 minggu untuk mengoreksi hasil ulangan akhir semester (UAS) ataupun ulangan kenaikan kelas (UKK), mengolah nilai, dan menulis raport.

Dalam waktu seminggu pelaksanaan UAS ataupun UKK, kita harus sesegera mungkin mulai mengoreksi pekerjaan para siswa. Jangan ditunda atau menunggu waktu pelaksanaan UAS/UKK selesei. Bila perlu, mata pelajaran yang pada hari itu diujikan, pada hari itu pula kita koreksi dan kita dapatkan nilainya.

Dalam waktu seminggu setelah UAS/UKK (dua minggu sebelum penerimaan raport). Kita gunakan waktu tersebut untuk melakukan remidi dan pengambilan nilai praktek.

Dalam waktu seminggu berikutnya (satu minggu sebelum penerimaan raport) nilai-nilai sudah harus selesai kita olah dan di minggu ini kita sudah mulai menulis raport. Kalau dihitung-hitung, kemarin itu saya membutuhkan waktu sekitar 3 malam untuk bisa menyelesaikan menulis 28 buah raport para siswa. Tiga malam itu saya gunakan waktu efektif setelah anak lanang tidur yaitu ba’da Isya sampai sengantuknya… hehe

  1. Do It with ‘Duit’

Jika para pujangga bilang, katakan dengan bunga, maka saya bilang selesaikan dengan uang. Eits, tapi dalam hal ini konotasinya positif loohhh!!

Bagi guru-guru yang sudah PNS ataupun sudah bersertifikasi sangat saya sarankan untuk melakukan tips yang ke-2 ini, daripada harus ‘ngarang biji’ 😉

Ya, membayar orang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya seperti yang saya deskripsikan di atas. Mulai dari koreksi, olah nilai, dan menulis raport. Saya pun pernah melakukan hal ini, ketika dulu Khadziq masih kecil dan belum bisa disambi. Saya ‘minta tolong’ ke adik saya yang sangat baik hati, si bungsu, untuk mengoreksi pekerjaan para siswa dan dengan memberikan upah semampu saya.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat. Jika ada kesamaan nama dan karakter, sungguh hal itu di luar skenario saya! hehe

Hidup Guru Indonesia!! 🙂

Iklan

5 thoughts on “Jangan Jadi Guru ‘Ngaji’

  1. alhamdulillah, semoga selalu diberi kekuatan dengan niat ibadah, dan coba lebih banyak manfaatkan waktu d jam kerja, kurangi membawa kerjaan k rumah, usahakan tugas hari itu selesaikan di hari itu juga, hehehe…

  2. Wuih setuju banget dengan tulisan bunda muna,iya jeng meskipun di kenyataannya masih ada aj guru yg ngaji tp mau negur juga gak enak,secara dia lebih senior, biarlah dg prinsip kita sendiri aj sbg pendidik moga2 kita jdi contoh yg baek buat anak-anak didik kita,siiiipppp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s